1.1
Latar
Belakang Masalah
Kota Makassar
merupakan kota yang sedang berkembang menuju kota metropolitan dengan luas
wilayah 175,77 km2 dan jumlah penduduk ± 1,8 juta jiwa (google. Makassar Dalam Angka 2014 ), dan merupakan salah satu kota
yang mempunyai aktifitas transportasi yang cukup tinggi karena merupakan
ibukota Provinsi Sulawesi Selatan yang berkembang menjadi pusat industri,
perdagangan, jasa dan pendidikan di kawasan ini.
Keadaan ini tentu
saja menuntut tersedianya pelayanan sarana angkutan, dan prasarana jalan, untuk
mengakomodasi permintaan perjalanan dan mobilitas masyarakat yang semakin berkembang
tersebut. (Aritma jaya, 2001).
Di kota Makassar
mobilitas manusia untuk memenuhi aktifitasnya menjadi hal yang penting terutama
jika tempat bekerja jauh dari tempat tinggal. Bruton (1975) dalam Warpani
(1990) mengemukakan Manusia memiliki freedom
of movement atau kebebasan untuk bergerak, dengan kebebasan ini manusia dapat
memilih moda angkutan, melalui jalan mana, dan kapan dia mau melakukan perjalanan.
Kebebasan untuk memilih
ini juga didukung oleh adanya option atau
pilihan, semakin banyak pilihan yang dimiliki maka akan semakin bebas
masyarakat untuk bergerak. Jarak merupakan
pertimbangan yang cukup penting dalam transportasi dan dalam pengambilan pilihan
untuk bergerak. Untuk jarak yang sama belum tentu memiliki waktu tempuh yang
sama karena adanya hambatan yang berbeda dalam menempuh jarak tersebut. Sebab terjadinya
waktu tempuh dapat dilihat dari kenyataan bahwa lebih dari 90% perjalan berbasis
tempat tinggal, artinya mereka memulai perjalanan dari tempat tinggal (rumah)
dan mengakhiri perjalanan kembali kerumah.
Fenomena yang
terjadi di kota Makassar dalam permasalahan waktu tempuh dimana salah satu pemicu
adalah kebanyakan pengguna kendaraan pribadi dibandingkan dengan angkutan umum,
hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi di kota Makassar sangat pesat,
sehingga masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan harus menggunakan transportasi umum. Disini sangat
kelihatan hal ini yang memicu permasalahan waktu tempuh dimana terjadinya kemacetan
yang menghambat.
Bertitik tolak dari
permasalahan diatas maka kami melakukan penelitian ini yang bertujuan untuk melihat
waktu tempuh perjalanan menuju ke tempat aktifitas pekerjaan masing-masing pada
waktu pagi hari ketika aktifitas untuk berangkat kerja, kemudian mencoba melihat
keterkaitannya dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya.